cr: pinterest

Sabar di Dunia Maya : Refleksi Muslim di Era Digital

by: Coala

Sabar adalah salah salah satu akhlak mulia yang ditekankan dalam Islam. Namun, di era media sosial yang serba cepat dan terbuka, banyak orang mulai lupa betapa pentingnya sifat ini. Dunia maya menuntut kecepatan, memberi ruang untuk bereaksi dengan cepat, sedangkan sabar  mengajarkan kita arti dari ketenangan dalam menghadapi sesuatu. Dan di tengah derasnya kata dan emosi yang mengalir di lini masa, sabar bisa menjadi jeda yang menjernihkan hati dan pikiran. Ia bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan untuk tetap jernih di antara riuhnya dunia digital. Sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam ayat-Nya,


وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Mengutip perkataan Syeikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah yang menjelaskan makna dari ayat tersebut, disimpulkan bahwasannya sabar bukanlah sekedar menahan diri dari emosi atau rasa lelah, melainkan seni bertahan dalam proses panjang menuju kebaikan. Dalam ketaatan, sabar berarti terus melangkah meskipun hati sering kali goyah dan tubuh terasa berat. Ia menuntut keberanian untuk melewati kepahitan, demi manisnya keridhaan Allah di akhir jalan. Sedangkan dalam menahan diri dari maksiat, sabar adalah benteng yang menjaga seorang hamba dari keinginan sesaat yang fana dan menipu. Tanpa sabar, kita akan mudah menyerah pada hawa nafsu dan kehilangan arah. Tapi dengan sabar, jalan yang bahkan terasa paling sulit pun bisa dilewati dengan rasa lapang, karena setiap langkahnya ditemani oleh pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di era digital yang semakin canggih ini, tidak sedikit dari kita yang mudah terpancing oleh berbagai postingan dan komentar yang memicu emosi dan kebencian public. Maka disitulah kesabaran kita diuji, agar kita bisa lebih bijak dalam dalam memanfaatkan sosial media. Namun, bagaimana caranya kita merealisasikan kesabaran tersebut dalam konteks digital?

  1. Tidak langsung mem-posting atau membagikan setiap masalah yang kita hadapi di sosial media. Seorang Muslim seharusnya hanya mengadukan keluh kesahnya kepada Allah Ta’ala semata. Sebagaimana Nabiyullah Ya’qub ‘alaihissalam mengatakan,

    إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللهِ

    “Ya’qub menjawab, ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.’” (QS. Yusuf: 86)

    2. Sebagai seorang muslim yang baik harus bisa menahan diri dari mengucapkan dan menuliskan hal-hal yang dapat melukai dan menyinggung perasaan saudaranya, ataupun membalas komentar buruk dengan keburukan lainnya. Sebagaimana firman Allah dalam ayatNya,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

    3. Hendaknya menyelesaikan masalah secara privat atau dengan sikap yang dewasa, bukan melalui unggahan yang bisa memicu konflik lebih besar. Namun, apabila memang dirasa tidak mampu menyelesaikan masalah secara personal, maka mintalah bantuan dari orang lain yang benar-benar amanah dan kompeten. Sebagaimana Allah Ta’ala menyuruh kita di dalam ayat Nya untuk bertanya kepada orang yang berilmu dan ahli dalam bidangnya

    فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

    “Tanyalah kepada ahlinya (orang yang berilmu) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

    Dengan menerapkan sikap sabar dalam menyelami dunia media sosial, selain menjaga kehormatan dan martabat diri, kita juga menjaga hubungan sosial yang lebih sehat, juga menghindari penyebaran fitnah dan konflik yang tidak perlu.

    Sumber: https://muslim.or.id/90289-realisasi-sifat-sabar-di-era-media-sosial.html


    Comments

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *