by: Happysaturdy
Pernahkah kamu merasa hatimu gelisah atau bahkan kehilangan arah? Sebagai manusia tentu hati kita pernah merasakan demikian. Allah Ta’ala menciptakan manusia sebagai bentuk makhluk yang tidak hanya berakal, tapi juga mempunyai perasaan. Melalui perasaan, manusia dapat merasakan gembira, sedih, bingung, gelisah, marah, takut, kecewa, malu, cinta, harapan, dan masih banyak lagi emosi mereka. Allah menciptakan manusia dengan perasaan sebagai bentuk ujian dari Allah Ta’ala serta anugerah untuk menikmati hidup.
Dalam kehidupan yang penuh tekanan ini, manusia sering kala mencari ketenangan dengan berbagai cara: liburan, hiburan, dan kegiatan duniawi lainnya. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitabnya:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ ٥
“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS Yunus: 57)
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya sekadar bacaan, akan tetapi Al-Qur’an juga sebagai obat bagi kegelisahan hati dan kekosongan jiwa.
Kisah seorang tabiut tabiin bernama Fudhail bin iyadh telah menjadi bukti nyata bagaimana satu ayat Al-Qur’an bisa menjadi obat dan mampu menyembuhkan jiwa yang gelap menjadi bercahaya.
Kisah Fudhail bin Iyadh
Beliau lahir di daerah Samarqand dan besar di Kufah, kemudian wafat di Makkah al-Mukarramah sekitar tahun 187 H. Abu ‘Ali al-Fudhail bin Iyadh bin Mas’ud at-Tamimi al-Yarbui atau lebih dikenal dengan Fudhail bin Iyadh adalah seorang ulama besar yang tersohor pada masanya. Namanya kerap disebut dalam berbagai kitab tazkiyatun nafs, taubat, dan keimanan. Tidak jarang kita menemukan kutipan yang diawali dengan “Fudhail berkata”—sebagai tanda betapa besar pengaruhnya dalam dunia tasawuf. Dalam berbagai riwayat, ia juga dikenal dengan pribadi yang zuhud, cerdas, kuat hafalannya dan juga warak. Namun, siapa sangka seorang tabiut tabiin ini dulunya adalah perampok ulung pada masanya?
Awalnya, Fudhail adalah perampok jalanan di wilayah Khurasan (sekarang termasuk kawasan Asia Tengah, seperti Iran dan Afghanistan). Ia dikenal sebagai seorang sosok yang memiliki keberanian dan kekuatan yang luar biasa, sehingga melakukan aksi perampokan seorang diri merupakan hal yang sepele baginya. Bahkan, kekuatannya setara dengan sepuluh hingga dua puluh pria dewasa. Ketika hendak merampok, Fudhail kerap membunuh korbannya terlebih dahulu. Dapat dibayangkan betapa banyak nyawa yang melayang di tangannya sebelum Allah Ta’ala memberinya hidayah untuk bertobat.
Suatu malam, ketika ia hendak merampok sebuah rumah di jalan yang gelap. Fudhail memanjat tembok rumah tersebut. Dari celah tembok, ia melihat pemilik rumah sedang melaksanakan salat. Ketika salat, orang itu membaca surah Al-Hadid ayat 16, yang berbunyi:
اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ ١٦
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS Al-Hadid: 16)
Maka, terketuklah pintu hati Fudhail. Hatinya luluh ketika mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Suara bacaan itu seolah menembus dinding keras dalam dirinya, membangunkannya dari kelalaian yang panjang
Fudhail pun berjalan tanpa arah di tengah gelapnya malam. Ia membiarkan langkah lunglainya menuntunnya menuju hidayah dari-Nya. Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah masjid dan memutuskan untuk masuk. Di dalam masjid itu, Fudhail hanya duduk diam, bingung dengan perasaan baru yang tengah ia rasakan.
Waktu berlalu hingga marbot masjid datang untuk salat Subuh berjemaah. Ketika marbot itu menyalakan lampu, ia terkejut melihat Fudhail duduk berdiam diri di dalam masjid. Ia mengenali wajah Fudhail dan merasa takut karena reputasinya sebagai perampok ulung. Dengan panik, marbot tersebut berteriak dan segera keluar dari masjid.
Warga yang berada di luar masjid ikut terkejut melihat marbot keluar masjid dengan ketakutan. Setelah mendengar penjelasan bahwa Fudhail bin ‘Iyadh—perampok yang terkenal itu—ada di dalam masjid, mereka pun menjadi takut. Salat Subuh pun tertunda karena suasana yang mencekam.
Namun, salah seorang warga memberanikan diri untuk masuk dan berbicara dengan Fudhail.
“Untuk apa engkau disini?” tanyanya.
Fudhail menjawab, “Aku telah bertobat.”
Maka terdengarlah sorak gembira di pagi itu. Setelah peristiwa itu, Fudhail meninggalkan kehidupan lamanya yang penuh kegelapan, lalu mulai menapaki jalan baru yang dipenuhi cahaya iman serta tobat yang tulus.
Menemukan Obat Hati dalam Ayat-Nya
Kisah Fudhail ini mengingatkan kita bahwa segelap apapun hati manusia, jika Allah Ta’ala berkehendak untuk memberinya hidayah, maka pasti akan Ia terangi dengan cahaya-Nya. Tidak ada kata terlambat untuk perubahan menuju kebaikan.
Selama napasmu masih tertahan di mulutmu, pintu taubat tetap terbuka lebar. Pertolongan Allah Ta’ala yang paling lembut adalah pertobatan hati hamba-hamba-Nya. Fudhail bin ‘Iyadh hanyalah contoh nyata bagaimana Al-Qur’an menyembuhkan hati yang keras dan memberi petunjuk bagi jiwa-jiwa yang tersesat.
Maka, jangan pernah meremehkan sepatah kata pun, sedetik pun, atau setetes air mata pun dalam doa kepada Allah. Bisa jadi itu adalah awal perjalanan baru bagi seseorang—seperti halnya Fudhail bin Iyadh, dalam perjalanannya menuju cahaya.
Sumber:
Lentera Kisah, 2017, Kisah Inpiratif, Fudhail bin Iyadh, Ustadz DR Khalid Basalamah, “[Video]”, YouTube, https://youtu.be/KW4KKQa95EI?si=Vy8A2cbE1kbLGxeC, 25 Oktober 2025.
(2013, September 29). “Taubatnya Fudail bin Iyadh”. KisahMuslim.com. Diakses dari https://kisahmuslim.com/3718-taubatnya-fudhail-bin-iyadh.html.
DSY. (2023, Januari 3). “Fudhail bin Iyadh, Wali Sufi dan Perampok yang Amanah”. Inilah.com. Diakses dari https://www.inilah.com/fudhail-bin-iyadh-wali-sufi-dan-perampok-yang-amana.
Rizqa,H. (2020, Maret 23). “Fudhail bin Iyadh, Bekas Perampok yang Jadi Gurunya Ulama”. Replubika. Diakses dari https://khazanah.republika.co.id/berita/q7n30z458/fudhail-bin-iyadh-bekas-perampok-yang-jadi-gurunya-ulama.


Leave a Reply