by: xinemoon
Di tengah derasnya arus teknologi dan media sosial, seorang Muslimah kini hidup di dunia yang penuh sorotan dan genggaman layar. Unggahan, foto, komentar, dan “story” menjadi bagian dari keseharian yang sulit terpisahkan. Namun, di balik cahaya layar itu, ada cahaya iman yang seharusnya tetap terjaga. Sering kali, tanpa disadari, rasa malu yang dahulu menjadi perhiasan Muslimah mulai terkikis oleh budaya pamer, komentar bebas, dan interaksi tanpa batas. Padahal, Allah ﷻ telah menurunkan pedoman yang indah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
Sebagaimana firman Allah ﷻ:
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَـٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ . وَقُل لِّلْمُؤْمِنَـٰتِ …يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَـٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa tampak darinya…” — (QS. An-Nur: 30–31)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan bukan hanya berlaku di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Mengenakan hijab syar’i merupakan suatu kewajiban bagi kaum Muslimah dan sebagai tanda meneladani jejak wanita–wanita muslimah pendahulu. Selain sebagai simbol ketaatan kepada Allah, hijab juga merupakan pelindung yang menjaga kita dari pandangan lawan jenis yang menjerumuskan, dan dari godaan yang melemahkan iman. Ironisnya, banyak wanita di zaman sekarang yang memperlihatkan auratnya dan menampilkan diri berlebihan di media sosial meskipun memakai hijab syar’i. Seolah-olah, hijab yang mereka pakai hanyalah semacam hiasan penutup.
Pada ayat ini, Allah mengingatkan pada umatnya bahwa Dia Maha Mengetahui apa yang kita perbuat, meski hanya berada di layar ponsel. Setiap unggahan, komentar, atau pesan yang kita kirim akan tercatat. Bahkan, dosa kita tercatat setiap ada yang melihat postingan tersebut selain suami atau mahramnya.
Sebagaimana firman Allah ﷻ:
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” — (QS. Qaf: 18)
Jadi, Sudahkah kita menjaga pandangan dan kehormatan di dunia digital ini?
Sudahkah kita berpikir dua kali sebelum menekan tombol “post” atau “share”? Dunia maya memang luas, namun pengawasan Allah jauh lebih luas dari itu. Media sosial bisa menjadi ladang pahala bila digunakan untuk kebaikan, namun juga bisa menjadi jalan dosa jika disalahgunakan. Maka berhati-hatilah dalam setiap langkah digitalmu, karena jejak jari-jarimu akan bersaksi di hadapan Allah ﷻ kelak.
Sumber: https://muslimah.or.id/117-menjaga-kehormatan-wanita-muslimah.html


Leave a Reply