by: Nuzhah Samiyyah
Kesenjangan sosial merupakan salah satu isu yang paling nyata terasa dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Fenomena ini tampak dari perbedaan mencolok antara kelompok masyarakat dalam hal pendapatan, kualitas pendidikan, akses kesehatan, maupun kesempatan ekonomi. Dalam konteks negara yang berkembang pesat dan menghadapi modernisasi, kesenjangan sosial menjadi tantangan besar karena dapat menghambat tercapainya kesejahteraan bersama. Selain dilihat sebagai isu ekonomi, kesenjangan sosial juga merupakan persoalan moral dan kemanusiaan yang perlu ditinjau dari perspektif agama, khususnya Islam, yang menekankan nilai keadilan dan kebersamaan.
Kesenjangan sosial tidak muncul begitu saja. Salah satu penyebab utama adalah ketimpangan ekonomi, baik dari sisi pendapatan maupun kepemilikan aset. Kelompok ekonomi atas memiliki akses lebih besar terhadap lapangan kerja stabil, pendidikan berkualitas, dan layanan kesehatan yang baik. Sebaliknya, kelompok ekonomi bawah sering terkunci dalam pekerjaan informal dengan pendapatan rendah dan tidak memiliki jaminan sosial. Selain itu, distribusi pembangunan yang tidak merata antara wilayah perkotaan dan pedesaan turut memperlebar jurang kesenjangan. Faktor struktural seperti kebijakan publik, tata ruang, dan distribusi sumber daya yang belum efisien juga memperburuk keadaan.
Dampak kesenjangan sosial sangat luas dan memengaruhi keberlangsungan masyarakat. Pertama, ketidakstabilan sosial menjadi konsekuensi yang sering muncul. Ketika masyarakat merasakan ketidakadilan, potensi konflik horizontal, kriminalitas, dan keresahan meningkat. Kedua, kesenjangan menyebabkan kemiskinan menjadi turun-temurun. Anak-anak dari keluarga miskin cenderung sulit mengakses pendidikan berkualitas, sehingga kesempatan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan sangat terbatas. Ketiga, mobilitas sosial menurun, membuat seseorang sulit memperbaiki kondisi hidupnya meskipun memiliki potensi. Keempat, kesenjangan berdampak pada kesehatan fisik dan mental masyarakat. Kelompok kurang mampu sering menghadapi masalah gizi, keterbatasan layanan kesehatan, serta tekanan psikologis akibat beban ekonomi. Kelima, kesenjangan pada akhirnya menurunkan produktivitas nasional karena sebagian besar penduduk tidak dapat berkembang secara optimal.
Dalam perspektif Islam, kesenjangan sosial yang ekstrem bukanlah kondisi ideal. Islam menekankan pentingnya keadilan dalam kehidupan bermasyarakat. Allah berfirman dalam QS An-Nahl ayat 90:
انَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat. Ayat ini menjadi dasar bahwa ketimpangan yang menimbulkan ketidakadilan harus diperbaiki. Islam mengatur mekanisme distribusi kekayaan melalui zakat, infak, dan sedekah, yang berfungsi mengalirkan harta dari kelompok mampu kepada kelompok kurang mampu.
Dengan demikian, kesenjangan sosial bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga persoalan moral dan keadilan yang harus ditangani bersama. Islam telah memberikan kerangka nilai dan instrumen nyata untuk mengurangi kesenjangan melalui zakat, kepedulian sosial, dan larangan eksploitasi. Jika nilai-nilai tersebut diimplementasikan secara konsisten oleh pemerintah, masyarakat, dan umat Islam, maka kesenjangan sosial dapat ditekan sehingga tercipta masyarakat yang lebih harmonis dan sejahtera.


Leave a Reply