cr: Pinterest

Karimah al-Marwaziyyah: Inspirasi Muslimah dalam Menuntut Ilmu

by: Ibnatair

Dalam lintasan panjang sejarah keilmuan Islam, terdapat sosok-sosok perempuan yang kontribusinya begitu besar, meskipun sering luput dari pandangan. Salah satunya adalah Karimah binti Ahmad al-Marwaziyyah, seorang ulama hadis perempuan yang namanya diabadikan oleh para ahli hadis besar Ahlus Sunnah sebagai figur terpercaya dalam periwayatan Shahih al-Bukhari. Kisah hidupnya tidak hanya mencerminkan kedalaman ilmu, tetapi juga menghadirkan pesan dakwah yang kuat tentang makna kesungguhan, pengorbanan, dan orientasi hidup seorang muslimah.

Karimah al-Marwaziyyah berasal dari wilayah Marwa, sebuah kawasan yang dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan pada masanya. Ia kemudian menetap di Makkah al-Mukarramah dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di sekitar Tanah Suci. Dalam Siyar A‘lam al-Nubala’, Imam ad-Dzahabi menyebutnya dengan gelar yang menunjukkan kedudukan ilmiahnya, seperti asy-syaikhah (guru besar perempuan), al-‘alimah (ulama yang berilmu luas), al-musnidah (pemegang sanad hadis yang kuat), serta menggambarkannya sebagai perempuan yang memiliki otoritas sanad dan keilmuan yang kokoh. Penyebutan ini bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan ilmiah dari seorang kritikus hadis yang dikenal sangat ketat dalam menilai perawi.

Keistimewaan Karimah al-Marwaziyyah tampak jelas dalam perannya sebagai periwayat Shahih al-Bukhari. Ia mengambil kitab tersebut dari para guru yang sanadnya kuat dan terpercaya, lalu mengajarkannya kembali kepada para penuntut ilmu yang datang dari berbagai wilayah. Banyak ulama besar, termasuk tokoh laki-laki yang masyhur dalam bidang hadis dan sejarah, justru mengambil ilmu darinya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam keilmuan Islam, ukuran kemuliaan bukanlah jenis kelamin, melainkan amanah ilmiah, ketelitian, dan ketakwaan.

Dalam proses pengajaran, Karimah dikenal sangat cermat. Ia tidak sekadar meriwayatkan teks hadis, tetapi memastikan ketepatan lafaz dan kesesuaian naskah yang dibaca murid dengan salinan yang ia miliki. Sikap ini mencerminkan etos keilmuan ulama hadis generasi awal, yang memandang ilmu sebagai amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Dari sini, tampak bahwa kesungguhan Karimah dalam menuntut dan mengajarkan ilmu lahir dari kesadaran spiritual yang mendalam, bukan sekadar ambisi intelektual.

Salah satu aspek kehidupan Karimah al-Marwaziyyah yang sering menjadi perhatian adalah pilihannya untuk tidak menikah. Namun, penting untuk dipahami bahwa literatur klasik tidak menampilkan hal ini sebagai sikap meremehkan pernikahan atau peran keluarga. Pilihan tersebut lebih tepat dipahami sebagai bentuk totalitas pengabdian terhadap ilmu pada konteks dan zamannya. Ia memilih jalan hidup yang memungkinkannya fokus sepenuhnya pada belajar, mengajar, dan menjaga kemurnian hadis Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh umat secara luas dan lintas generasi.

Di sinilah letak pelajaran reflektif bagi muslimah masa kini. Kisah Karimah al-Marwaziyyah bukan ajakan untuk menolak pernikahan, tetapi pengingat bahwa hidup seorang muslimah tidak boleh berhenti pada penantian semata. Menunggu jodoh tanpa membekali diri dengan ilmu, pemahaman agama, dan kedewasaan berpikir justru berpotensi menjauhkan perempuan dari peran strategisnya dalam kehidupan umat. Islam memuliakan perempuan yang berilmu, karena dari merekalah lahir generasi yang kuat secara akidah dan akhlak.

Perempuan dalam Islam memiliki posisi sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Peran ini tidak akan optimal tanpa bekal ilmu yang memadai. Keteladanan Karimah al-Marwaziyyah menunjukkan bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari ibadah dan bentuk keseriusan dalam mempersiapkan diri, baik untuk kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Bahkan meskipun Karimah tidak berkeluarga, warisan ilmunya telah mendidik ribuan jiwa dan menguatkan fondasi keilmuan umat Islam.

Melalui sosok Karimah al-Marwaziyyah, kita diajak untuk menata kembali orientasi hidup. Ilmu bukan pelengkap, melainkan kebutuhan utama. Perempuan bukan hanya pendamping, tetapi juga penjaga nilai dan peradaban. Kisah ini menjadi dakwah yang lembut namun tegas, bahwa kesungguhan dalam menuntut ilmu akan selalu melahirkan keberkahan, baik bagi diri sendiri maupun bagi umat secara keseluruhan.

Referensi:

Imam ad-Dzahabi, Siyar A‘lam al-Nubala’, biografi Karimah al-Marwaziyyah

https://rahma.id/karimah-al-marwaziyah-perempuan-ahli-hadis/

https://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihattokoh&id=156


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *