Mahasiswi Ilmu Hadis STDI Jember, Shabrina dan Rabiatil, Buktikan Prestasi Tak Selalu Soal Nilai

Jember, Mei 2025 — Menjadi mahasiswa berprestasi tidak selalu berarti mendapat nilai tertinggi. Hal ini dibuktikan oleh dua mahasiswi jurusan Ilmu Hadis STDI Imam Syafi’i Jember, Shabrina Setiawan dan Rabiatil, yang memaknai prestasi sebagai bentuk pemahaman mendalam, manajemen waktu yang baik, serta konsistensi dalam belajar dan beribadah.

Shabrina Setiawan: Prestasi Lahir dari Kedisiplinan

Shabrina Setiawan dikenal sebagai salah satu mahasiswi yang aktif dan memiliki daya hafalan yang kuat. Ia pernah meraih predikat sebagai santri dengan hafalan terbaik di pesantren sebelum melanjutkan pendidikan tinggi. Menurutnya, memilih jurusan Ilmu Hadis adalah pilihan yang sejalan dengan passion dan kekuatan yang ia miliki.

“Ilmu hadis adalah ilmu wahyu yang kedudukannya sangat tinggi, kedua setelah Al-Qur’an,” ujar Shabrina.

Shabrina mengaku lebih mudah memahami pelajaran melalui penjelasan lisan. Ia pun mengembangkan sistem belajar pribadi yang meliputi membaca materi sebelum kelas, mencatat bagian yang sulit, mendengarkan penjelasan ustadz, lalu mengulang dan merangkum kembali. Baginya, prestasi adalah pemahaman yang benar terhadap ilmu, bukan hanya angka.

Dalam kesehariannya, Shabrina bijak dalam membagi waktu antara kuliah dan organisasi. Ia hanya mengikuti kegiatan yang sejalan dengan jurusan dan tidak mengganggu prioritas utama, yaitu belajar. “Kalau tidak sesuai, saya memilih untuk tidak ikut,” tuturnya.

Sumber semangatnya berasal dari dukungan keluarga, terutama orang tua. “Menang alhamdulillah, kalah jadi pelajaran,” kenangnya akan pesan orang tua yang selalu menguatkan. Ketika lelah, ia biasanya meminta dijenguk atau sekadar mengobrol dengan keluarga, karena jarak rumah yang masih terjangkau.

Rabiatil: Dari Penolakan Menjadi Panggung Kesempatan

Berbeda dengan Shabrina, Rabiatil memulai perjalanan di STDI karena tidak lolos seleksi di beberapa kampus lain. Namun, ia justru menemukan kenyamanan dan makna baru di jurusan Ilmu Hadis. “Saya melihat kebutuhan masyarakat di daerah asal saya, Sumbawa, yang belum memiliki lembaga khusus bidang hadis. Itu yang mendorong saya belajar di sini,” jelasnya.

Rabiatil dikenal sejak kecil aktif mengikuti lomba, terutama di bidang pidato. Ia pernah menjuarai lomba tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Bagi Rabiatil, prestasi adalah saat seseorang mampu memberi manfaat bagi orang lain, bukan semata-mata memenuhi ekspektasi orang tua atau lingkungan.

Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah komentar orang-orang yang meragukan pilihannya. Namun, ia tetap konsisten dan fokus pada niat awal. “Prestasi saya bukan karena omongan mereka, tapi karena usaha saya sendiri,” tegasnya.

Strategi belajarnya meliputi membuat jadwal harian, memperbanyak membaca Al-Qur’an, serta menyediakan waktu khusus untuk belajar dan murojaah. Saat menghadapi ujian, ia berprinsip bahwa pemahaman harus mencapai minimal 80% sebelum masuk masa tenang.

Motto hidupnya yang berkesan berbunyi: “Hiduplah sesukamu, karena engkau pasti akan mati.” Sebuah pengingat bahwa segala perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Penutup: Belajar dari Keteladanan

Kisah Shabrina dan Rabiatil menjadi inspirasi bahwa setiap mahasiswa dapat menjadi berprestasi dengan versinya masing-masing. Bukan hanya soal kecerdasan akademik, namun juga soal kedewasaan dalam mengelola waktu, kesungguhan dalam belajar, dan ketulusan dalam berjuang. Keduanya membuktikan bahwa prestasi sejati adalah ketika seseorang tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *