by: Kholifah Amanah
Menjadi mahasiswi berprestasi sering kali identik dengan jadwal yang padat dan keterlibatan di berbagai kegiatan. Namun, cerita Rahma Rizqina Syifa’ul Jayyidah justru menunjukkan hal yang sedikit berbeda. Mahasiswi asal Sidoarjo, Jawa Timur ini berhasil meraih predikat mahasiswi berprestasi angkatan 2024 Program Studi Ilmu Hadis tahun ajaran 2024/2025 dengan fokus, konsistensi, serta penentuan prioritas yang jelas.
Kini memasuki semester 4, Rahma memilih untuk lebih memusatkan perhatiannya pada kegiatan akademik dan program mulazamah yang diikuti setiap pekan. Berbeda dengan sebelumnya, ia tidak lagi aktif dalam berbagai kegiatan tambahan seperti tahfidz subuh, kajian ba’da maghrib, maupun organisasi. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, tetapi sebagai bentuk penyesuaian agar fokus belajarnya lebih terarah.
Saat ditanya tentang perasaannya ketika dinobatkan sebagai mahasiswi berprestasi, Rahma mengaku sempat tidak menyangka. “Senang, tapi juga merasa masih banyak yang lebih baik,” ungkapnya. Ia bahkan menyadari masih ada kekurangan dalam jawabannya saat ujian. Bagi Rahma, capaian tersebut bukan semata karena keunggulan pribadi, tetapi hasil dari usaha yang terus dijaga dan doa yang tidak pernah putus kepada Allah Ta’ala.
Dalam menjaga prestasinya, Rahma memiliki motivasi yang sederhana namun kuat: orang tua. Dukungan yang diberikan, baik secara moral maupun finansial, menjadi alasan baginya untuk terus berusaha maksimal dalam studi. Meski begitu, perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Ia mengaku pernah kesulitan memahami beberapa materi perkuliahan, terutama saat penjelasan dirasa kurang jelas. Untuk mengatasinya, Rahma memilih belajar mandiri, bahkan hingga larut malam jika diperlukan.
Soal manajemen waktu, Rahma punya pola yang cukup teratur. Hari-harinya dimulai sejak dini hari dengan ibadah, lalu dilanjutkan dengan murojaah sebelum berangkat ke kelas. Waktu siang ia gunakan untuk beristirahat, sementara sore hingga malam kembali diisi dengan belajar dan mengulang materi. Menjelang tidur, ia menyempatkan diri menghafal Al-Qur’an sebagai persiapan setoran. Di tengah rutinitas tersebut, Rahma tetap menggunakan media sosial, tetapi dengan batasan yang ia kendalikan sendiri.
Untuk strategi belajar, Rahma lebih mengandalkan cara sederhana seperti membuat ringkasan dan catatan. Metode ini membantunya saat mengulang materi, terutama menjelang ujian. Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dalam murojaah pelajaran, bukan hanya belajar saat mendekati ujian saja.
Dalam perjalanannya, Rahma tidak berjalan sendiri. Ia menyebut orang tua, ustadzah pembimbing, dan teman-teman sebagai sosok yang banyak memberikan pengaruh dan dukungan. Lingkungan yang saling menguatkan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga semangat belajar.
Di akhir wawancara, Rahma memberikan definisi yang cukup menarik tentang makna “mahasiswi berprestasi”. Baginya, prestasi bukan hanya soal nilai tinggi, tetapi juga tentang seberapa besar ilmu itu bisa memberi manfaat. Ia pun berpesan kepada mahasiswi lainnya untuk tetap semangat belajar, memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dan tidak melupakan doa.
Cerita Rahma seolah mengingatkan bahwa menjadi berprestasi tidak selalu berarti harus melakukan semuanya sekaligus. Kadang, justru dengan memilih fokus dan menjaga konsistensi, hasil yang dicapai bisa lebih maksimal.


Leave a Reply